Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Padang Today  Berita Budaya  Jumat, 24/12/2010 – 23:09 WIB  Fajar Rillah Vesky

Anda tentu tahu dengan karapan sapi? Lomba balap sapi dari Madura yang terkenal ke pelbagai belahan dunia itu memang asyik ditonton. Nah, ajang karapan sapi ternyata tidak hanya milik masyarakat Pulau Garam. Di Kota Payakumbuh, Sumbar, masyarakatnya juga memiliki tradisi hampir serupa.

Tradisi itu bernama pacu jawi. Bedanya dengan karapan sapi hanya setipis kulit bawang saja. Jika karapan sapi sering digelar di lapangan luas atau tanah yang keras. Maka pacu jawi lebih sering berlangsung di atas sawah berlumpur. Jika dalam karapan sapi, berat badan sang joki menjadi beban sapi. Maka pada pacu jawi, jokinya tidak menjadi beban, hanya  mengekor lari sapi dari belakang.

Kendati sedikit berbeda, tapi tujuannya kedua tradisi tetap sama. Sama-sama memberi hiburan bagi masyarakat banyak. Hanya saja pacu jawi di Payakumbuh lebih bernuansa kekeluargaan. Nyaris tidak budaya komersil di dalamnya. Semua murni hiburan bagi petani yang baru saja menikmati pesta panen.

“Pacu jawi adalah acara dari awak untuk awak. Tujuannya, supaya dapek bagalak-galak. Hiburan rakyatlah namanya,” kata Si Man, 42, warga Kelurahan Payolinyam, Kecamatan Payakumbuh Utara, saat menonton pacu jawi di kampungnya, Selasa (21/12) lalu.

Si Man memang benar. Pacu jawi di Payolinyam pada Senin memang benar-benar mengocok perut para penonton. Terlebih saat Komandan Kodim 0306 Limapuluh Kota Letkol Inf Isdon Handoko ikut menjadi joki, dengan turun ke gelanggang dan bermandikan lumpur.

Saat itu, Isdon nampak benar-benar menikmati perannya sebagai joki. Ia dengan cekatan memegang tali bajak, lalu menghardik sapi untuk berlari. Tak lama berselang, sapi pun meloncat-loncat. Melesat bagaikan kilat. Air sawah memantul dari kakinya. Memercik bersama lumpur dan gelak tawa masyarakat yang menonton.

Selepas menjadi joki,  Isdon Handoko mengaku berbesar hati  bercampur puas . “Saya bangga bisa ikut berpartisipasi menjadi joki salah satu sapi yang ikut perlombaan. Tidak semua orang yang pernah merasakan jadi joki sapi ini. Orang Payakumbuh atau Limapuluh Kota yang memiliki budaya ini pun belum tentu semuanya pernah merasakan jadi joki pacu jawi,” kata Isdon.

Keterlibatan orang-orang seperti Isdon yang Komandan Kodim dalam arena pacu jawi yang langsung ikut di gelanggang , tentu saja menjadi contoh yang sangat positif dan gairah tersendiri bagi masyarakat untuk menontonnya. “Pak Dandim saja suka pacu jawi, mengapa pula kita tidak,” kata Aking, wartawan Posmetro Padang di Payakumbuh.

Presenter kocak dari radio Harau FM, Herman Bodi alias Mak Pado juga mengungkapkan hal serupa. Dia yakin, jika banyak petinggi daerah seperti Dandim Letkol Isdon, tentu saja pacu jawi di Payakumbuh bakal berpeluang menjadi sebuah agenda wisata yang dinikmati banyak orang. Semoga ?

Iklan